Pemeriksaan Reseptor Progesteron Secara Imunohistokimia

reseptor progesteron

Halo #sobatpoltekkes, sudah pernah dengan apa itu reseptor progesteron alias Progesterone Receptor. Nah, kalau belum tah, yuk simak uraian tentang reseptor progesteron, lengkap dengan cara pemeriksaan imunohistokimianya.

Apa itu Reseptor progesteron?

Reseptor progesteron merupakan reseptor yang diaktivasi oleh hormon progesteron sebagai molekul fisiologis yang memiliki beberapa efek seperti diferensiasi endometrium, penghentian siklus sel, apoptosis, menurunkan inflamasi, mengatur proses implantasi, maturasi epitel dan kelenjar mamae.

Reseptor progesteron adalah sebuah protein yang mungkin hadir pada sel-sel tertentu yang dapat melampirkan molekul progesteron.  Istilah “RP positif” mengacu pada sel-sel tumor yang mengandung protein reseptor progesteron. Sel-sel ini umumnya sensitif terhadap terapi hormon seperti tamoxifen dan kelas baru obat yang disebut inhibitor aromatase yang menghambat efek progesteron.

Bacaan Lainnya

Baca Juga: Apa itu Imunohistokimia?

Progesteron adalah hormon yang dikeluarkan oleh korpus luteum (massa sel yang terbentuk di ovarium di tempat di mana sel telur dilepaskan) setelah ovulasi.

Menurut Science Direct, progesteron diperlukan untuk menginduksi reseptor progesteron. Bila tidak ada hormon yang mengikat hadir terminal karboksil menghambat transkripsi. Mengikat hormon yang menginduksi perubahan struktural yang menghilangkan tindakan penghambatan.

Setelah progesteron mengikat reseptor, restrukturisasi dengan dimerisasi berikut dan kompleks memasuki nukleus dan berikatan dengan DNA. Ada transkripsi terjadi sehingga pembentukan RNA yang diterjemahkan oleh ribosom untuk memproduksi protein tertentu.

Pemeriksaan Imunohistikimia Reseptor Progesteron

Prinsip immunohistikimia adalah bahwa antibodi akan berikatan secara spesifik dengan antigen. Antibodi akan “mencari“ lokasi antigen, dan berikatan dengan antigen. Tempat antigen dapat ditentukan bila kita dapat mengetahui dimana ikatan antibodi-antigen. Ada 3 tahap dalam pemeriksaan ini, antara lain:

Pembuatan preparat jaringan

  1. Pengambilan sampel dengan cara biopsi terbuka atau biopsi jaringan
  2. Melakukan perendaman dengan Neutral Buffer Formalin 10% selama 30 menit
  3. Jaringan yang telah di rendam dilakukan pemotongan dengan cara potong beku
  4. Fikasisi kembali dengan Neutral Buffer Formalin 10% selama 3-36 jam
  5. Dilanjutkan dengan proses dehidrasi, clearing dan embbending
  6. Dibuat blok parafin
  7. Dipotong dengan mikrotom 4 mikron
  8. Ditempelkan pada objeck glass
  9. Dipanaskan sampai parafin hilang, yang tersisa hanya jaringan

Dilakukan pewarnaan jaringan dengan HE ( Hematoxylin Eosin)

Pewarnaan HE adalah pewarnaan standar yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai struktur umum sel dan jaringan normal serta perubahan (kerusakan) umum yang disebabkan penyakit.

  1. Proses awal pewarnaan melakukan deparafinisasi yaitu slide preparat direndam dalam xylol I, II, III masing-masing selama 3 – 5 menit
  2. Prosees dehidrasi dilakukan dengan menggunakan alcohol bertinngkat dengan konsentrasi 100% (alcohol absolute I, II, III), 95%, 90%, 80%, 70% masing-masing selama 3-5 menit
  3. Slide preparat dibilas dengan air mengalir selama 10-15 menit dan selanjutnya dimasukkan dalam aquadest selama 5-10 menit
  4. Preparat diwarnai dengan pewarna Hematoxilin selama 10-15 detik
  5. Preparat dibilas dengan air mengalir selama 10 menit dan selanjutnya dimasukkan dalam aquadest selama 5 menit
  6. Preparat diwarnai dengan pewarna eosin selama 1-2 menit
  7. Preparat didehidraasi dengan alcohol bertingkat dengan konsentrasi 70%, 80%, 90%, 95%, dan 100% (alcohol absolute I, II, III) masing-masing selama 3-5 menit
  8. Preparat dijernihkan (clearing) dengan xylol I, II, III masing-masing selama 3-5 menit
  9. Proses terakhir adalah mounting dilakukan dengan penutupan preparat dengan gelas penutup (cover glass).

Pewarnaan Imunohistokimia

Pewarnaan immunohistokimia adalah metode pewarnaan bahan aktif pada suatu jaringan.

Prinsip dasar dari immunohistokimia adalah terjadinya interaksi antara antibody spesifik dengan epitope dari antigen spesifiknya pada suatu jaringan, maka teknik immunohistokimia dapat digunakan untuk mendiagnosa suatu penyakit (Sebagai antigen), bahkan  boleh  dikatakan  bahwa  IHK  mempunyai spesifisitas yang tinggi sebagai alat diagnosa penyakit.

Adapun prosedur pewarnaan Imunohistokimia untuk RP, antara lain:

  1. Proses awal pewarnaan  jaringan  melakukan  deparafinisasi  yaitu  slide
  2. preparat di rendam dalam xylol I, II, III masing-masing selama 3-5 menit.
  3. Proses rehidrasi   dilakukan dengan   menggunakan   alkohol   bertingkat dengan konsentrasi 100% (alkohol absolut I, II, III), 95%, 90%, 80%, 70% masing-msing selama 3-5 menit.
  4. Slide preparat dibilas dalam aquadest (DW) selama 5-10 menit.
  5. Preparat dibilas  dalam Phosphat  buffered  saline (PBS) selama  5-10 menit.
  6. Preparat dipanaskan dalam citrat buffer (1,05 gr citric acid dalam 1 liter aquadest) dengan suhu 90 – 95oC selama 30 – 45 menit.
  7. Kemudian preparat  diinkubasi  dalam  citrat  buffer    pada  suhu  kamar selama 20 menit.
  8. Preparat dibilas  dengan  PBS  sebanyak  3  kali,  masing – masing  selama  3 menit.
  9. Preparat direndam  dalam  H2O2 3%  untuk  memblok  aktifitas endogenous selama 20 menit pada suhu kamar.
  10. Preparat dibilas   dengan   PBST   ( phosphat   buffered   saline   tween ) sebanyak 3 kali, masing-masing selama 3 menit.
  11. Preparat direndam dalam skim milk 10% (0,1 gr dalam 100 ml PBS) atau 10% serum normal selama 30 menit.
  12. Preparat dibilas   dengan   PBST   ( phosphat   buffered   saline   tween ) sebanyak 3 kali, masing – masing selama 3 menit.
  13. Kemudian potongan jaringan ditandai.
  14. Preparat diinkubasi   dengan   antibodi   primer (Monoclonal/polyclonal antibody:  AB  I)  selama  1 – 2  jam  dalam  suhu  kamar  atau overnight pada suhu 4oC (refrigerator ).
  15. Preparat dibilas dengan PBST sebanyak 3 kali, masing-masing 3 menit.
  16. Preparat di inkubasi dengan antibodi sekunder selama 30-60 menit.
  17. Preparat dibilas dengan aquades 3-60 menit.
  18. Preparat diwarnai dengan larutan kromogen DAB selama 30 -90 detik.
  19. Dilakukan counterstaining dengan hematoksilin 5-10 detik.
  20. Preparat didehidrasi dengan alcohol bertingkat selama 3-5 menit.
  21. Clearing preparat dengan xylol I, II, III selama 3-5 menit.
  22. Proses terakhir adalah mounting dilakukan dengan penutupan preparat dengan gelas penutup (Deck Glass).
  23. Pengamatan di mikroskop

Faktor yang Mempengaruhi Pemeriksaan

Berikut beberapa faktor yang bisa mempengaruhi pemeriksaan PR, meliputi:

  • Fiksasi
  • Suhu dan Temperatur
  • Volume terhadap spesimen
  • Tingkat Keasaman (pH)

Interpretasi Hasil

Sampel yang sudah selesai diproses akan diperiksa di bawah mikroskop untuk ditentukan diagnosa histopatologi (Derajat histologi) dan ekspresi RP. Ekspresi RP adalah deteksi protein PR pada inti sel melalui pewarnaan imunohistokimia menggunakan mikroskop.

Hasil: Reaksi positif antara antigen – antibodi ditunjukkan dengan warna kecoklatan.

Hasil Positif Reseptor Progesteron

  1. Ekspresi Progesterone Reseptor (PR) Negatif.
  2. Ekspresi Progesterone Receptor (PR) Positif

hasil Hasil Reseptor Progesteron

Hasil: Inti berwarna biru keunguan (Menyerap warna haemotoxylin), sedangkan sitoplasma, jaringan ikat, eritrosit berwarna merah (Menyerap eosin).

Demikian uraian mengenai pemeriksaan Reseptor Progesteron, lengkap dengan pemeriksaan serta contoh gambaran mikroskopis terkait interpretasi hasilnya, terima kasih.

4.5/5 – (2 votes)

Apakah Ini Membantu? Follow Dinas.id di aplikasi Google News, KLIK DISINI

REKOMENDASI UNTUK ANDA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.