Perilaku Sakit

perilaku sakit

Perilaku Sakit adalah cara seseorang bereaksi terhadap gejala-gejala penyakit yang dipengaruhi oleh keyakinan-keyakinannya terhadap apa yang harus diperbuat untuk menghadapinya.

Perilaku sakit mencakup segala jenis upaya yang berkenaan dengan penyakit, muai dari pengobatan diri sendiri sampai ke pencarian bantuan medis.

Perilaku sakit itu sendiri (alternative perilaku):

Read More
  • Mencari pertolongan medis dari berbagai sumber atau pemberi layanan.
  • Fragmentasi perawatan medis.
  • Menunda upaya mencari pertolongan sesuai dengan gejala atau keadaan yang dirasakan.
  • Melakukan pengobatan sendiri.
  • Membatalkan atau menghentikan pengobatan.

Faktor yang mempengaruhi perilaku sakit yaitu sebagai berikut:

Klasifikasi Mechanic

Tanggapan seseorang terhadap suatu penyakit ditentukan oleh berbagai faktor dan sejumlah ahli berupaya mengidentifikasikan faktor tersebut.

Salah seorang diantaranya Mechanic, yang menyebutkan sepuluh faktor atau variabel yang mempengaruhi tanggapan baik si penderita sakit sendiri (self-defined) maupun orang lain (other defined) terhadap situasi sakit seseorang.

Kesepuluh faktor tersebut adalah:

1. Apakah tanda atau simptom kelainan tersebut tampak (visibility), dapat dikenal (recognizability), mencolok (perceptual solinse) ataukah tidak.

Dari sudut pandang orang lain, tanda atau simtom kelainan yang tampak dengan jelas, dapat dikenali, dan tampak mencolok pada seseorang (seperti anggapan mengenai adanya tanda atau simtom penyakit jiwa karena histeris atau perilaku aneh dan agresif yang mencolok) merupakan faktor yang cenderung lebih mendorong diambilnya tindakan daripada tanda atau simtom kelainan yang terselubung atau dapat disembunyikan oleh si penderita (misalnya gangguan jiwa, seperti skizofrenia yang mungkin belum diketahui orang lain karena dalam pandangan orang lain perilaku seseorang masih tampak normal).

Dari sudut pandang si penderita, simtom mencolok, seperti sakit perut, sakit kepala atau demam akan lebih cepat memperoleh tanggapan daripada simtom yang tidak dapat akan tampak tanpa pemeriksaan medis (seperti tahap awal kanker, TBC atau HIV).

2. Apakah tanda atau simtom kelainan serius atau tidak.

Orang lain akan cenderung mengambil tindakan manakala seseorang menampilkan simtom yang mengarah ke perilaku yang dapat membahayakan diri sendiri ataupun orang lain (seperti perilaku agresif atau percobaan bunuh diri).

Seseorang akan lebih cenderung mencari bantuan medis bagi dirinya apabila ia mengalami simtom yang terasa aneh, tidak dikenal dan mengancam (seperti suhu badan tinggi, insomnia atau timbulnya abses) daripada apabila ia menghadapi simtom yang sudah sering dialami (seperti influenza).

3. Apakah tanda atau simtom kelainan mengganggu keluarga, pekerjaan, dan kegiatan sosial lain.

Perilaku agresif seorang penyalah guna zat adiktif yang mengganggu lingkungan sosialnya akan lebih mendorong orang lain untuk bertindak terhadapnya daripada apabila ia bersikap pasif.

Seseorang akan cepat bertindak apabila mengalami simtom yang dianggapnya mengganggu interaksi sosial, seperti luka, kejang otot, diare akut atau sakit gigi, daripada simtom kelainan yang tidak dirasakan meskipun dari segi medis mungkin sudah tergolong kasus gawat darurat (seperti perdarahan otak yang mungkin dirasakan sebagai sakit kepala biasa).

4. Apakah tanda atau simtom kelainan itu sering muncul, bertahan, sering kembali atau tidak.

Orang lain akan lebih cenderung bertindak manakala suatu simtom tertentu seperti depresi mental karena penyalahgunaan zat adiktif sering terulang daripada apabila seseorang baru pertama kali mengisap ganja.

5. Ambang toleransi orang yang teterpa dan menilai tanda dari simtom kelainan.

Di suatu kalangan sosial dan budaya tertentu warga masyarakat cenderung lebih toleran terhadap simtom kelainan daripada dalam lingkungan sosial atau budaya lain.

Dalam kalangan sosial tertentu, simtom penyakit menular seksual mungkin akan disembunyikan selama mungkin karena dianggap memalukan, sedangkan dalam kalangan sosial lain simtom awal penyakit menular seksual sudah cukup alasan untuk segera mencari bantuan medis.

Setiap individu pun mempunyai ambang toleransi yang berlainan, ada orang yang tidak tahan terhadap rasa sakit dan menanggapinya dengan berbagai perilaku, seperti mengeluh, mengerang, meronta-ronta dan menangis, sedangkan orang lain mungkin mampu tenang dan menahan rasa sakit meskipun mengalami rasa nyeri yang setara atau bahkan lebih besar.

6. Informasi, pengetahuan, anggapan budaya, serta pemahaman yang dipunyai orang yang membuat penilaian terhadap tanda dan simtom kelainan.

Orang yang mempunyai lebih banyak informasi, pengetahuan dan pemahaman mengenai makna simtom kelainan, seperti tekanan darah rendah, tekanan darah tinggi atau diabetes, akan berperilaku lain daripada orang yang sama sekali tidak memiliki informasi demikian.

7. Keperluan psikologis yang mempengaruhi proses psikologis.

Orang secara psikologis sering tidak dapat atau sukar menerima kenyataan bahwa orang lain yang dicintainya (isteri, anak, suami, orang tua, saudara kandung, teman) sedang menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan cepat atau lambat akan mengakibatkan kematian si penderita.

Penyangkalan terhadap kenyataan medis ini dapat mempengaruhi upaya kesehatan yang ditempuh oleh teman dan kerabat.

Keadaan psikologis individu yang menderita sakit pun mempengaruhi upaya kesehatan yang ditempuhnya. Rasa cemas dan takut terhadap suatu penyakit menular atau penyakit kronik tertentu beserta berbagai dampaknya dapat saja mempercepat upaya kesehatan, tetapi dapat pula menundanya.

8. Keperluan yang bersaing dengan tanggapan terhadap penyakit.

Orang tua mungkin menunda upaya kesehatan bagi anaknya yang sakit manakala mereka merasa bahwa mereka terpaksa masih harus memprioritaskan pemenuhan keperluan pokok sehari- hari.

Seseorang dapat mempertaruhkan kesehatan dan bahkan jiwanya demi hal lain yang dianggapnya lebih penting, seperti keberhasilan pelaksanaan tugas di tempat kerja.

9. Persaingan dalam penafsiran makna tanda dan simtom yang ditemukenali.

Apa yang dianggap oleh kalangan medis sebagai tanda atau simtom penyakit mungkin diberi penafsiran lain oleh para teman atau kerabat seseorang yang disangka sakit, misalnya masih dianggap sebagai gejala normal.

Pandangan seperti ini dapat mempengaruhi jenis dan kecepatan upaya kesehatan yang ditempuh. Dari sudut pandang perorangan, simtom kelainan pun dapat dipandang sebagai hal yang normal.

Orang yang dalam pekerjaannya sehari-hari melakukan kegiatan fisik berat dapat mengabaikan simtom kelainan karena menafsirkannya sebagai gejala normal yang berkaitan dengan beban kerja fisiknya.

10. Ada tidaknya sarana untuk perawatan, kedekatan fisik, dan biaya fisik serta dana untuk dapat dilakukannya suatu upaya kesehatan.

Mereka yang tempat tinggalnya dekat dengan sarana kesehatan akan berpeluang lebih besar untuk memanfaatkan sarana tersebut daripada mereka bertempat tinggal jauh; mereka yang secara ekonomis mampu menanggung biaya kesehatan akan lebih cenderung memanfaatkan sarana kesehatan daripada mereka yang tergolong dalam kelompok ekonomi lemah.

BACA JUGA: Sosiologi Kesehatan

Klasifikasi Scambler

a. Keanekaragaman budaya

Faktor budaya mempengaruhi penafsiran simtom.

b. Fenomenologi simtom dan pengetahuan mengenai penyakit

Simtom yang tampak mencolok lebih cenderung ditafsirkan sebagai penyakit yang harus segera ditangani daripada simtom yang kurang menonjol meskipun secara medis sudah dianggap gawat.

c. Pemicu (triggers)

Meskipun simtom penyakit telah ditemukenali namun keputusan apakah suatu tindakan akan diambil atau tidak, bentuk tindakan yang akan diambil dan saat dilakukannya tindakan tergantung pada sejumlah faktor pemicu tertentu.

Scambler menyebutkan lima jenis pemicu, yaitu sebagai berikut:

  • Terjadinya suatu krisis antarpribadi. Keputusan seorang pengidap penyakit untuk segera mencari bantuan medis dapat terpicu oleh peristiwa meninggalnya seorang kerabat yang menderita penyakit sama dengan yang kini sedang diidapnya.
  • Keterkaitan dengan hubungan pribadi atau sosial. Seorang pemuda yang semula membiarkan adanya jerawat di wajahnya, misalnya mungkin saja memutuskan untuk segera mencari bantuan medis setelah mulai menjalin hubungan cinta dengan seorang gadis.
  • Tekanan dari pihak lain untuk mencari bantuan medis (sanctioning). Seseorang yang merasakan simtom penyakit, tetapi berkali-kali menunda upaya kesehatan mungkin memutuskan untuk mencari bantuan medis setelah didesak keluarganya.
  • Keterkaitan dengan kegiatan pekerjaan atau fisik. Suatu tawaran beasiswa atau tawaran pekerjaan yang disertai syarat pemeriksaan kesehatan, misalnya dapat mendorong orang untuk segera menjalani pemeriksaan kesehatan yang telah berulangkali tertunda; suatu undangan untuk memberikan ceramah atau khotbah dapat mendorong seseorang untuk segera berkunjung ke dokter gigi atau dokter mata.
  • Pemberian batas waktu pada simtom (temporalizing of symtomatology). Menurut Scambler ada orang yang mengemukakan bahwa ia akan mencari bantuan medis apabila simtomnya tidak hilang setelah jangka waktu tertentu atau muncul lagi setelah hilang.

d. Persepsi biaya dan manfaat

Sebagaimana dalam klasifikasi Mechanic maka dalam skala prioritas seseorang upaya kesehatan tidak selalu menempati urutan pertama. Pengeluaran dana untuk keperluan upaya kesehatan dapat tertunda untuk sesuatu yang dianggap lebih penting, seperti biaya hidup sehari-hari, biaya pendidikan atau pelaksanaan tugas.

e. Rujukan dan intervensi awam

Menurut Scambler, dalam masyarakat dijumpai apa yang oleh Freidson dinamakan “sistem rujukan awam” (lay referral systems), yaitu sebelum mencari bantuan medis seseorang sering berkonsultasi terlebih dahulu dengan orang awam, seperti teman dan kerabat.

f. Akses ke sarana Kesehatan

Kemudahan memperoleh pelayanan medis berkaitan dengan frekuensi pemanfaatannya. Scambler mengutip pandangan Tudor-Hart yang menyatakan bahwa penyediaan pelayanan medis berbanding terbalik dengan keperluan terhadapnya, seperti di kawasan dengan morbiditas tinggi dijumpai sedikit sarana kesehatan sedangkan di kawasan dengan morbiditas rendah dijumpai banyak sarana kesehatan.

Tudor-Hart menamakan gejala ini “hukum pelayanan terbalik” (inverse care law) dan mengemukakan bahwa hal ini disebabkan ekonomi pasar, seperti kawasan yang makmur mempunyai daya tarik bagi sarana kesehatan.

5/5 – (1 vote)

Yuk, Kami juga Ada di Google News, KLIK DISINI!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *