Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), Apa sih itu?

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)

COVID-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh coronavirus yang menyerupai SARS-CoV dan dapat menimbulkan gejala berupa demam, batuk, sesak napas, mual dan muntah, diare sampai gejala yang berat seperti gagal napas dan kematian. Coronavirus adalah zoonosis (ditularkan antara hewan dan manusia) dimana hewan yang diduga menularkan ke manusia diduga asalnya dari kelelawar.

Etiologi

Coronavirus (CoV) merupakan subfamily dari Coronaviridae ordo Nidovirales dan dikelompokkan dalam 4 subfamily a, b, g dan d berdasarkan genomic dan serotypenya. Coronavirus merupakan virus RNA dengan genomic terbesar (>27 Kb). Struktur tubuh virus (virion) ini terdiri dari membran, selubung lipid bilayer (envelope), glikoprotein yang menyerupai paku (spike), genom RNA positif, dan protein nukleokapsid.

Sebagian besar coronavirus menginfeksi hewan dan menjadi pembawa (Carrier) pathogen coronavirus sebelum menginfeksi manusia. Carrier yang paling sering adalah musang, kelelawar dan tikus.

Bacaan Lainnya

Sampai saat ini terdapat 6 coronavirus yang dapat menginfeksi manusia yaitu:

  • 229E
  • NL63
  • 0C43
  • HP
  • SARS-CoV
  • MERS-CoV

Gejala Klinis COVID-19

Coronavirus dapat menyebabkan gejala infeksi saluran pernapasan, gastrointestinal, dan neurologis pada manusia, dan hewan mamalia lainnya. Manifestasi klinis biasanya muncul dalam 2 hari hingga 14 hari setelah paparan.

Tanda dan gejala umum infeksi coronavirus antara lain gejala gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk dan sesak napas. Pada kasus yang berat dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan bahkan kematian.

Tanda-tanda dan gejala klinis yang dilaporkan sebagian besar adalah demam, dengan beberapa kasus mengalami kesulitan bernapas, dan hasil rontgen menunjukkan infiltrat pneumonia luas di kedua paru paru.

Kriteria Pasien yang dicurigai Terinfeksi Covid-19

Berikut adalah kriteria pasien yang bisa dicurigai terinfeksi COVID-19, adalah:

  1. Seseorang yang mengalami:
  • Demam (2380C) atau ada riwayat demam
  • Batuk/ Pilek/ Nyeri tenggorokan
  • Pneumonia ringan hingga berat berdasarkan gejala klinis dan/atau gambaran radiologis.

Perlu waspada pada pasien dengan gangguan system kekebalan tubuh (immunocompromised) karena gejala dan tanda menjadi tidak jelas. DAN Memiliki riwayat perjalanan ke negara yang terjangkit pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala.

  1. Seseorang dengan demam (2380C) atau ada riwayat demam ATAU ISPA ringan sampai berat DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memiliki salah satu dari paparan berikut:
  • Riwayat kontak dengan kasus konfirmasi COVID-19; ATAU
  • Bekerja atau mengunjungi fasilitas kesehatan yang berhubungan dengan pasien konfirmasi COVID-19; ATAU
  • Riwayat perjalanan ke Provinsi Hubei, China (termasuk Kota Wuhan); ATAU
  • Kontak dengan orang yang memiliki riwayat perjalanan pada 14 hari terakhir ke Provinsi Hubei,
    China (termasuk Kota Wuhan).

Penunjang Diagnosis

Berikut adalah beberapa penunjang dalam penegakan diagnosis covid-19, antara lain:

1. Foto Toraks

Foto toraks pasien dengan COVID-19 memberikan gambaran konsolidasi yang halus pada kedua lapangan paru, dapat disertai dengan efusi pleura bilateral. Foto toraks memiliki manfaat dalam screening pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dengan prevalensi penyakit yang tinggi namun keterbatasan modalitas penunjang lainnya.

2. Pemeriksaan Laboratorium

Sampel serum juga perlu dilakukan pemeriksaan, pada anak dan dewasa dibutuhkan 5-10 ml sementara pada bayi dibutuhkan setidaknya 1 ml. Pada fase awal penyakit jumlah leukosit normal atau menurun, limfosit menurun, enzim hati dan mioglobin meningkat pada beberapa pasien. C-reactive protein (CRP), erythrocyte sedimentation rate (ESR) dan D-dimer meningkat sedangkan procalcitonin dalam batas normal.

3. CT-Scan Toraks

Gambaran CT-scan toraks pada pasien dengan COVID-19 relatif sama dengan pneumonia virus lainnya seperti SARS dan MERS yaitu groud glass opacity (GGO) dan patchy shadow pada kedua lapangan paru.

4. Pemeriksaan Real-Time PCR dan Sequencing

Dalam menegakkan diagnosis terduga COVID-19 direkomendasikan mengumpulkan sampel specimen dari saluran napas atas (nasopharyngeal dan oropharyngeal swabs) dan dari saluran napas bawah (sputum dan swabs) dan dari saluran napas bawah (sputum dan bilasan bronkus). Induksi sputum tidak dianjurkan. Selanjutnya coronavirus diidentifikasi dengan Real Time– PCR (rt-PCR) dan sequencing untuk mengidentifikasi spesies virus.

Penatalaksanaan

Sampai saat ini belum ditemukan terapi antiviral terhadap infeksi COVID-19. Terapi yang direkomendasikan adalah simptomatik dan supportive serta isolasi terhadap pasien yang terinfeksi.

  • Isolasi pada semua kasus
  • Implementasi pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI)
  • Serial foto toraks
  • Terapi oksigen (O2). Penggunaan High Flow oxygen atau noninvasive ventilation hanya pada
    pasien tertentu apabila terjadi depresi napas berat atau hipoksemia.
  • Antibiotik empiris berdasarkan epidemiologi dan pola kuman setempat secepat mungkin sampai
    diagnosis ditegakkan.
  • Kortikosteroid tidak dianjurkan
  • Terapi simptomatik
  • Terapi Cairan
  • Ventilasi mekanis (bila gagal napas)
  • Penggunaan vasopressor apabila mengalami syok sepsis
  • Cegah komplikasi selama perawatan
  • Antivirus khusus untuk COVID-19 sampai saat ini
    belum ada.

Pencegahan

Pencegahan Infeksi dan penularan yang direkomendasikan WHO adalah:

  1. Hindari transmisi dari manusia ke manusia termasuk mengurangi infeksi sekunder oleh kontak erat petugas kesehatan, mencegah kejadian peningkatan transmisi penyakit dan mencegah penyebaran global dari Cina.
  2. Identifikasi, isolasi dan tangani pasien segera termasuk optimal terapi pada pasien yang terbukti terinfeksi dan menggunakan APD yang lengkap dan terstandarisasi.
  3. Identifikasi dan batasi transmisi dari hewan yang dicurigai sumber penularan.
  4. Tutup mulut dan hidung dengan tissue pada saat batuk atau bersin kemudian buang tissue ditempat sampah.
  5. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik, atau menggunakan sanitizer yang berbahan dasar alcohol.
  6. Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut sebelum cuci tangan.
  7. Bersihkan dan desinfeksi secara rutin benda yang sering di sentuh.
  8. Mencari pertolongan medis apabila memiliki gejala dan curiga terdapat paparan infeksi.

Baca Juga: Isolasi Mandiri Menghadapi Covid-19

Referensi: Dr.dr. Irawaty Djaharuddin, Sp.P(K), FISR Instalasi Infection Center via SehatPedia App. WHO, CDC, dan Kemenkes RI.

4.5/5 – (2 votes)

Yuk, Kami juga Ada di Google News, KLIK DISINI!

Artikel Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *