Toxoplasma Gondii : Struktur, Siklus Hidup & Cara Penularan

toxoplasma gondii

Halo #sobatpoltekkes, fokus pembahasan kita kali ini adalah  tentang Toxoplasma Gondii yang meliputi pengertian, epidemiologi, struktur parasit, cara penularan, siklus hidup, dan manifestasi klinis.

Untuk selengkapnya, dibaca yah sob!

Pengertian Toxoplasma

Toxoplasma merupakan penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia.

Bacaan Lainnya

Infeksi toxoplasma bersifat oportunistik, yaitu infeksi yang disebabkan oleh organisme yang biasanya menyebabkan penyakit pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang buruk.

Agen penyebab toxoplasma adalah Toxoplasma gondii, parasit protozoa yang mengenai sebagian besar mamalia termasuk manusia. Parasit toxoplasma sangat umum ditemukan pada tanah, tinja kucing, sayuran mentah, daging mentah, terutama daging babi, kambing, dan rusa.

Toxoplasma dapat menginfeksi manusia melalui saluran pencernaan, biasanya melalui perantaraan makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan agen penyebab taxoplasma, misalnya minum susu sapi segar atau makan daging yang belum sempurna matangnya dari hewan yang terinfeksi toxoplasma.

Epidemiologi

Infeksi toxoplasma merupakan parasit zoonosis yang memiliki prevalensi tinggi hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Seropositivitas meningkat seiring dengan usia.

Prevalensi di Inggris pada anak-anak <10 tahun adalah 8%, meningkat menjadi 47% pada orang >60 tahun, dengan angka serokonversi 0,5-1 % per tahun (Mandal, Wilkins, Dunbar, & Mayon-White, 2008).

Di negara-negara Asia Tenggara, prevalensi antibodi terhadap Toxoplasma gondii pada manusia dan hewan berkisar 2-75% (Sundar, Mahadevan, Jayshree, Subbakrishna, & Shankar, 2007).

Seroprevalensi ini dijumpai lebih tinggi pada populasi yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi daging mentah atau setengah matang (Terazawa, Muljono, Susanto, Margono & Konishi, 2003).

Seroprevalensi toxoplasma pada darah donor di Bali adalah 35,9 %, sedangkan pada wanita adalah 63,9% (Laksemi, Artama, & Wijayanti, 2013).

Pada pasien HIV yang mengalami toxoplasma, risiko kerusakan CNS dan morbiditas sangat tinggi. Penelitian serologi menunjukkan 15-68% orang dewasa di USA terinfeksi toxoplasma, dan 90% di Eropa.

Di USA, semua pasien yang terinfeksi HIV akan mengalami ensefalitis sekitar 20-47%, sedangkan di Eropa dan Afrika sekitar 25-50%. Oleh karena morbiditas pada pasien HIV yang mengalami toxoplasma sangat tinggi maka diperlukan deteksi dini infeksi Toxoplasma pada pasien HIV.

Struktur Parasit

Toxoplasma gondii merupakan parasit obligat intraseluler yang pertama kali ditemukan oleh Nicolle dan Manceaux pada tahun 1908. Parasit ini diisolasi dari sejenis tikus di Afrika Utara yaitu Ctenodactylus gondi, sehingga diberi nama Toxoplasma gondii (Black & Boothroyd, 2000).

Klasifikasi Toxoplasma gondii menurut International Code of Zoological Nomenclature adalah sebagai berikut.

  • Kingdom: Protista
  • Subkingdom: Protozoa
  • Phylum: Apicomplexa
  • Class: Sporozoasida
  • Ordo: Eucoccidiorida
  • Subordo: Eimeriorina
  • Family: Sarcocystidae
  • Subfamily: Toxoplasmatidae
  • Genus: Toxoplasma
  • Spesies: Toxoplasma gondii

Bentuk Toxoplasma Gondii

Setelah mempelajari klasifikasinya, pembelajaran dilanjutkan ke bentuk Toxoplasma gondii yang meliputi takizoit, bradizoit, dan ookista.

Selengkapnya, di bawah ini:

  1. Takizoit

Takizoit memiliki bentuk bulan sabit, panjang 2-3 µm dan lebar 4-8 µm. Takizoit memperbanyak diri secara cepat pada berbagai macam sel di tubuh hospes antara dan sel epitelial intestinal dari hospes definitif.

Takizoit ditemukan pada infeksi akut dalam berbagai jaringan tubuh (Kasper, 2008). Takizoit dapat menginfeksi dalam cairan tubuh manusia (darah, liur, air susu), ginjal, jantung, otak, dan otot jantung (Zulkoni, 2011).

Takizoit terdiri dari berbagai organela dan inclusion bodies yaitu pellicle (lapisan luar), apical ring, polar ring, conoid, rhoptries, micronemes, micropore, mitochondria, subpellicular microtubulus, RE kasar dan halus, golgi complex, ribosom, inti, granula padat, granula amylopectin apicoplast (multiple-membrane-bound-plastid-like organela).

Club-shaped organela yang disebut rhoptries sebanyak 8-10 buah terdapat di antara inti dan anterior tip.

Rhoptries merupakan struktur ekstretori berbentuk kantung. Microneme merupakan struktur berbentuk batang yag terbentuk terutama pada ujung depan dari parasit.

Fungsi dari microneme dan rhoptries berkaitan dengan penetrasi ke dalm sel host dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan parasit. Rhoptries mempunyai fungsi sekresi yang berkaitan dengan penetrasi sel host dan mensekresikan enzim proteolitik Ajioka, Fitzpatrick, & Reitter, 2001).

Struktur takizoit Toxoplasma gondii ditampilkan pada gambar berikut ini:

Ultrastruktur Takizoit Toxoplasma gondii, Ajioka, Fitzpatrick, & Reitter
Ultrastruktur Takizoit Toxoplasma gondii, Ajioka, Fitzpatrick, & Reitter

  1. Bradizoit

Bradizoit banyak terdapat pada daging hewan yang mentah atau dimasak kurang matang. Bradizoit adalah bentuk dari Toxoplasma gondii yang memperbanyak diri secara lambat dalam kista jaringan.

Kista jaringan dapat ditemukan pada berbagai organ viseral misalnya paru-paru, hepar, dan ginjal. Kista jaringan sering dijumpai pada jaringan saraf dan jaringan otot, misalnya otak, mata, otot skeletal, dan myokardium (Kasper, 2008).

  1. Ookista

Ookista hanya terbentuk dalam usus hospes definitif yaitu kucing. Ookista dikeluarkan melalui tinja.

Ookista yang terdapat dalam tinja kucing merupakan bentuk tidak bersporulasi, berbentuk spheris dan subspheris, berukuran 10 x 12 µm, dan berisi dua sporokista yang masing-masing mengandung empat sporozoit (Montoya & Liesenfeld, 2004).

Bila ookista tertelan oleh manusia atau hewan lain, berkembang menjadi takizoit (Zulkoni, 2011).

Cara Penularan

Manusia dapat terinfeksi Toxoplasma gondii dengan beberapa cara. Umumnya terjadi melalui rute oral, yaitu secara tidak sengaja menelan ookista dari tanah yang terkontaminasi misalnya melalui sayur atau buah-buahan yang tidak dicuci, sumber air minum yang terkontaminasi ookista, susu yang tidak dipasteurisasi, serta tidak mencuci tangan setelah dari kegiatan berkebun.

Toxoplasma gondii dapat ditularkan melalui beberapa cara sebagai berikut.

  • Masuknya ookista dari kotoran (feces) hewan yang menempel pada bulu kucing dan hinggap di makanan atau minuman.
  • Menghirup debu yang mengandung ookista.
  • Masuknya kista yang berasal dari daging hewan yang dimasak tidak sempurna atau kurang matang. Selain melalui ookista, infeksi toxoplasma dapat terjadi bila manusia makan daging mentah atau kurang matang yang mengandung ookista.
  • Masuknya takizoit atau trofozoit dari ibu hamil yang menginfeksi melalui plasenta lalu menuju janin (toxoplasma konginetal).
  • Masuknya takizoit atau trofozoit dari ibu yang terinfeksi melalui ASI menuju bayi.
  • Transfusi darah dari orang yang terinfeksi. Takizoit maupun bradizoit dapat dikultur dari darah yang diletakkan pada pendingin atau dibekukan, hal ini merupakan sumber infeksi bagi individu yang mendapatkan transfusi darah (Jones, Lopez, & Wilson, 2001).
  • Transplantasi organ dari orang yang terinfeksi.
  • Bekerja di laboratorium dengan hewan uji yang terinfeksi. Infeksi toxoplasma juga dapat terjadi pada peneliti di laboratorium yang bekerja dengan menggunakan hewan percobaan yang terinfeksi toxoplasma, atau melalui jarum suntik dan alat laboratorium lainnya yang terkontaminasi Toxoplasma gondii.
Skema Proses Penularan Toxoplasma gondii pada Manusia, Robert-Gangneux & Darde
Skema Proses Penularan Toxoplasma gondii pada Manusia, Robert-Gangneux & Darde

Toxoplasma ditemukan dalam intermediate host dalam 2 bentuk yaitu bradizoit dan takizoit. Bradizoit merupakan bentuk dormant, pertumbuhan lambat, dapat ditularkan dan berupa kista.

Pada saat manusia memakan daging setengah matang berisi kista yang mengandung bradizoit, dinding kista akan pecah di dalam lambung host dan bradizoit yang tahan terhadap peptidase lambung dilepaskan dan menginvasi usus halus.

Bradizoit akan mengalami transfomasi menjadi takizoit, bentuk yang membelah dengan cepat, menyebabkan penyakit karena dapat merusak semua sel berinti, bereplikasi di dalam vakuola parasitophorus, menghancurkan sel (egress) dan menginfeksi sel tetangga yang sehat.

Siklus Hidup

Siklus hidup Toxoplasma gondii terbagi menjadi dua yaitu siklus hidup seksual yang terjadi pada kucing dan siklus hidup aseksual yang terjadi pada organisme selain kucing.

Kucing merupakan hospest definitif karena dalam sel epithelium usus halus kucing terjadi perkembangan stadium seksual maupun aseksual.

Siklus hidup Toxoplasma gondii ditampilkan pada gambar (Hunter & Sibley (2012)).

Siklus Hidup Toxoplasma gondii, Hunter & Sibley
Siklus Hidup Toxoplasma gondii, Hunter & Sibley

Siklus hidup seksual dimulai dari ookista maupun kista jaringan yang menginvasi sel mukosa usus kucing sehingga terbentuk schizont yang kemudian berkembang menjadi gametosit.

Setelah terjadi fusi antar gamet jantan dan betina, maka terbentuklah ookista yang keluar dari sel hospest menuju ke lumen usus kucing dan dikeluarkan melalui feses kucing.

Ookista Taxoplasma gondii bersifat infeksius bagi manusia dan resisten, baik terhadap kekeringan dan panas (Montoya & Liesenfeld, 2004).

Masing-masing ookista mengandung 2 sporokista dan setelah 48 jam akan terbentuk 4 sporozoit dari masing-masing sporokista. Ookista dengan 8 sporozoit di dalamnya jika tertelan kucing akan mengulangi siklus hidup seksual dalam tubuh kucing (Kasper, 2008).

Ookista atau kista jaringan jika tertelan hospes intermediate seperti tikus, kambing, babi, burung, dan juga manusia dapat terjadi siklus hidup aseksual. Ookista terbuka dan mengeluarkan 8 sporozoitnya di dalam duodenum manusia atau hewan, kemudian menembus dinding usus, mengikuti sirkulasi darah dan menginvasi berbagai sel terutama makrofag. Toxoplasma gondii membentuk takizoit dalam makrofag (Kasper, 2008).

Tertelannya ookista yang telah bersporulasi akan mengakibatkan terjadinya ekskistasi yang menyebabkan keluarnya sporozoit. Sporozoit kemudian menginfeksi sel epitel usus dari inang dan berubah menjadi takizoit untuk mengawali perkembangan siklus seksual dan aseksual.

Sporozoit yang menginfeksi sel-sel berinti akan berkembang menjadi takizoit dalam kurun waktu 24 jam setelah infeksi. Selanjutnya takizoit tersebut membelah diri secara endodiogoni (Black & Boothroyd, 2000).

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis dari toxoplasma dibagi menjadi 4 kategori, antara lain:

  • Toxoplasma akut pada immunocompetent
  • Toxoplasma kongenital
  • Ocular toxoplasma
  • Toxoplasma pada immunocompromised

Infeksi toxoplasma pada individu yang sehat umumnya asimptomatik namun pada individu immunocompromised seringkali menyebabkan encephalitis yangmengancam jiwa.

Respon imun pada orang sehat secara efisien akan mencegah penyebarantakizoit yang menimbulkan kerusakan langsung, sedangkan pada individuimmunocompromised reaktivasi infeksi tidak terdeteksi sehingga menyebabkan rekrudesensiyang berat dan fatal (Montoya & Liesenfeld, 2004).

Manifestasi nonspesifik yang menunjang diagnosis toxoplasma adalah riwayat kontak dengan kucing atau makan daging mentah Toxoplasma merupakan penyakit yang menyerupai demam kelenjar dengan antibodi heterofilnegatif. Toxoplasma memiliki histologi khas pada biopsi kelenjar getah bening (Mandal et2008).

Infeksi toxoplasma pada nonimmune hospest saat kehamilan dapat menyebabkanpenularan kongenital sehingga menimbulkan kelainan janin atau bayi baru lahir yang seriusKejadian infeksi kongenital toxoplasma berkisar 0,1 kelahiran hidup (Ajioka, FitzpatrickReitter, 2001).

Dampak infeksi kongenital terhadap janin tergantung pada stadiumtrisemester) kehamilan pada saat infeksi akut terjadi. Akibat infeksi toxoplasma selamakehamilan berupa abortus spontan, kelainan neurologis misalnya kebutaan, retardasi mental (Black & Boothroyd, 2000).

Penyakit klinis dapat timbul saat lahir (kongenital) maupun pada orang dewasa muda yaitu sebagai berikut:

  1. Toxoplasma kongenital

Secara umum transmisi toxoplasma kongenital muncul ketika infeksididapat selama kehamilan. Plasenta adalah suatu organ yang sangat menghubungkan infeksi maternal (ibu) dan fetus (bayi), dimana Toxoplasma plasenta selama periode tertentu pada ibu yang terinfeksi. Infeksi menyebabkan aborsi spontan, lahir mati, dan persalinan prematur.

  1. Limfadenitis toxoplasma

Hal ini bermanifestasi sebagai limfadenopati, terutama servikal dan biasanya nonsupuratif dan tidak nyeri tekan. Limfadenitis toxoplasma merupakan suatu penyakit menyerupai influenza dengan demam ringan, kadang-kadang hepatosplenomegali. Gejala dan tanda dapat hilang timbul, namun sembuh dalam beberapa bulan.

  1. Toxoplasma okular pada orang dewasa.

Toxoplasma okular merupakan retinitis nekrotikans fokal yang sembuh dengan retina pucat atrofik yang dikelilingi oleh tepi berbatas jelas. Gejalanya antara lain penglihatan kabur, nyeri, dan fotofobia. Sepertiga dari semua kasus koroidoretinitis pada orang dewasa diyakini disebabkan oleh Taxoplasma gondii. Sebagian besar penyakit diyakini didapatkan secara kongenital.

  1. Toxoplasma serebral.

Toxoplasma serebral merupakan penyakit berat dengan 10% fatalitas dan 10% insidensi komplikasi neurologis berat.

Diagnosis toxoplasma dapat melalui beberapa cara pemeriksaan, yaitu di samping melihat gejala klinis juga dilakukan pemeriksaan serologis, pemeriksaan histopatologi dan biopsi.

BACA JUGA: Penjelasan Lengkap MALARIA.

Demikian penjelasan seputar Toxoplasma gondii yang dibahas dengan sangat lengkap. Untuk menambah khasanah ilmu kesehatan kamu, silahkan baca artikel lain yang tersedia di website ini.

5/5 – (1 vote)

Yuk, Kami juga Ada di Google News, KLIK DISINI!

Artikel Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *