Soal Ringkasan Novel

soal ringkasan novel

Soal Ringkasan Novel – Halo adik-adik, kali ini mimin dinas.id akan memberikan rekomendasi kumpulan contoh soal-soal Bahasa Indonesia kelas 10, X KD 3.9 SMA untuk UAS, UTS semester genap, ganjil, gasal. Tentunya, sesuai kisi-kisi pertanyaan tentang ringkasan novel.

Rangkuman Materi Ringkasan Novel

Untuk memudahkan mengerjakan latihan, silahkan pahami ringkasan materi di bawah ini:

Ringkasan mempunyai ciri sebagai berikut :

Bacaan Lainnya
  1. Pengungkapan kembali bentuk kecil dari sebuah karangan.
  2. Mereproduksi kembali apa kata pengarang.
  3. Mempertahankan urutan-urutan gagasan yang membangun sosok (badan) karangan.
  4. Penyusun ringkasan terikat oleh penataan, isi, dan sudut pandang pengarangnya.
  5. Kalimatnya pendek-pendek dan senada dengan kalimat pengarang aslinya.

Mengungkapkan kembali sebuah karangan atau naskah bacaan dalam bentuk yang padat. Dalam meringkas kita mengambil intisari atau ide-ide pokok suatu bacaan sehingga menjadi bentuk yang lebih padat.

Langkah-langkah meringkas

  1. Bacalah teks secara cermat dan efektif, sampai dapat menangkap gagasan utama, kesan umum, sudut pandang, dan tema utama dari teks.
  2. Catatlah bagian-bagian yang dianggap penting.
  3. Tulislah informasi berdasarkan bagian-bagian yang dianggap penting tersebut.
  4. Tulislah ulang intisari bacaan ke dalam bentuk kalimat tidak langsung, bergaya orang ketiga (penceritaan). Gunakan bahasa sendiri, bukan bahasa teks/buku yang diambil secara utuh, menyeluruh, lengkap, sekalipun dalam bentuk penuturan yang singkat.
  5. Tidak memasukkan pikiran, ilustrasi, atau contoh sendiri.
  6. Tidak mengubah keseimbangan dan penekanan pengarang asli.
  7. Menyusun draf atau kerangka untuk membuat intisari bacaan.
  8. Susun draft menjadi bentuk rangkuman yang baik

Latihan Soal

Oke, bacalah petunjuk di bawah ini sebelum menjawab soal!

Cermati penggalan novel berikut!

novel (Ketika Tuhan Jatuh Cinta)

Seharian, Humaira tidak keluar dari kamarnya. Dia hanya menangis dan menangis saja sambil menatapi fato ayah dan hnya Fikri pun sedang bersedih, tapi ia lebih bisa menerima kenyataan bahwa semua adalah milik Allah dan alan kembali kepada-Nya.

Semua yang ada di alam semesta adalah ciptaan-Nya, adah: tak luput dari pantauan-Nya. Tak ada satu pun yang kini dati-Nya, meskipun itu hanya satu hembusan napas neko: Semut. Memang sedih ketika yang dicintai, apalagi aang tua sendiri harus diambil kembali oleh pcmilik-Nya. Terapi, semua bukanlah bentuk hukuman dari-Nya, uhinkan petunjuk bahwa Dia itu ada, mutlak menggengzam nyawa semua hamba-Nya, serta mengatur hidup dan Inti.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, malainhan telah tertulis dalam kitab (Laubul Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Saanggubnya, yang demikian itu mudah  bagi Allah. (Karni jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput darimu, dan jangan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Alah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”

Demikian Sang Penggenggam nyawa berfirman. Tidak ada pengecualian untuk semua hamba-Nya. Tidak pula ada penguluran waktu, walau sekejap saja, jika ajal sudzh ditentukan.

Kita sejatinya hanya hamba yang lemah, tak berdaya. Namun, selalu alpa hingga merasa apa yang ada di hadapan kita mutlak milik kita, hingga banyak yang menyombongkan diri. Kita sejatinya tidak memiliki apa-apa. Ingatlah ketika kita pertama kali dilahirkan. Sama sekali tidak membawa apa pun. Kita lalu tumbuh dan berkembang, berpikir untuk bertahan hidup, hingga Allah mengaruniakan rezeki yang berlimpah dan orang-orang yang kita cintai. Semua sejatinya titipan Allah. Jika saatnya tiba, semua itu akan diambil kembali oleh-Nya.

Hidup dan mati adalah ujian dari Allah. Bisakah kita bersabar dalam menghadapi hidup yang menggetirkan ketika ditinggalkan orang yang kita cintai? Ataukah kita justru berpaling dari-Nya karena mengganggap Dia tidal adil? Semua adalah ayat-ayat-Nya yang ditunjukkan kepada manusia untuk diimani. Air mata adalah karunia dari Allah untuk melegakan kesesakan di dalam dada. Namun. air mata juga bisa membawa durhaka jika dikeluarkan untuk menangisi takdir-Nya yang tak mungkin diubah.  Nabi. tercinta kita pun seperti manusia  biasa yang tak  luput dari emosi. Beliau pun selalu menangis ketika orang –orang yang dicintainya dipanggil oleh Sang Rabb. Tapi, beliau menjadi teladan bagi pengikutnya dengan mengatakan bahwa manusia boleh menangis, namun tidak untuk meratap

Dia tidak menciptakan alam semesra tanpa tujuan. Dia menciptakan malam untuk waktu beristirahat dan bermunajat, menciptakan siang untuk mencari rezeki, menciptakan langit sebagai petunjuk, menciptakan bumi untuk menetap, dan menciptakan hidup dan mati untuk lebih memperkenalkan diri-Nya kepada setiap hamba.

Perumpamaan manusia yang selalu bersedih atas takdirN ya, ibarat dia sedang menanam api neraka yang kelak akan dituainya. Perumpamaan manusia yang bersabar atas takdirNya, ibarat dia yang sedang menanam benih pahala yang akan dituai pula kelak. Tak pernah Allah menyakiti hati hamba-Nya sesakit apa pun bencana yang diterima sang hamba. Sebaliknya, si hamba itulah yang tanpa sadar sering menyakiti Allah dengan dosa-dosa yang dianggapnya ringan, namun sejatinya besar di mata-Nya.

“Jangan kau buat suasana di rumah ini semakin berduka Ibu sama bapak sudah kembali ke tempat yang semestinya. Mereka orang-orang yang shalih dan shalihah. Karena itulah, Allah sangat merindukan mereka hingga memanggil keduanya. Banyak kisah orang jahat yang matinya lama. Itu karena Allah sedang memberi tenggang waktu padanya apakah akan segera bertobat, ataukah tetap dalam keingkarannya, karena Allah hanya rindu pada hamba yang datang pada-Nya dengan penuh kesucian dan keikhlasan. Nah. seperti orang tua kita. Mereka dipanggil oleh Allah setelahmelakukan perjalanan ibadah. Mendoakan orang-orang shalih yang telah berjasa menyebarkan agama Islam di negeri kita ini. Jadi, nggak perlu berlarut-larut kamu meratapi kepergian mereka. Kakak pun sangat sedih. Karena perjuangan mereka, kita bisa sebesar ini. Tapi, kalau kita tidak mengikhlaskan kepergian mereka, itu berarti didikan agama yang mereka berikan pada kita sia-sia belaka.

“Bapak pernah bilang, janganlah kita jadi orang yang terlalu berlebihan dalam segala hal. Karena semua yang memakai kata “terlalu” akan berdampak tidak baik juga untuk kita. Dengar Humaira, “Barang siapa yang bersusah karena urusan dunia, sama saja dia marah kepada-Ku. Dan, barang siapa yang menampar mukanya atas kematian seseorang, maka ia sama saja dengan mengambil tombak untuk memerangi Aku.”

Dalam hadits, Rasulullah bersabda demikian. Jadi, apakah kamu mau dirnasukkan ke dalam golongan hamba yang berani memerangi Allah?  “Sudahlah. Kalau terus-menerus menangis, tidak baik juga untuk kesehatanmu. Sekarang, tinggal kita berdua di rumah ini. Apa pun yang terjadi di kemudian hari, harus kita hadapi bersama. Sekarang, kamulah satu-satunya orang terdekat yang dititipkan Allah pada Kakak. Kakak harap. apa yang sudah terjadi tidak menjadikan kita terpisah lagiKakak tidak mau kehilangan orang yang Kakak sayangi untuk kedua kalinya.”

Dengan penuh kasih sayang, Fikri membelai kepala adiknya. Tak bisa ditahan, matanya pun berkaca-kaca ketika menatap foto almarhum orang tuanya.

“Oh, ya, kebetulan hari ini Kakak mau. mengantarkan kerajinan lagi sambil ngambil uang setoran di Jalan Otista. Apa kamu mau ikut, lalu kita jalan-jalan? Nanti, Kakak beliin gamis yang bagus buatmu…,” lanjut Fikri, saat teringat telepon Tante Shio, dua hari kemarin, yang pesan kerajinan lagi.

Humaira gelengkan kepala pelan, sambil mengusap wajahnya yang sembab dengan punggung tangannya.  “Ira ingin di sini saja. Kalau Kakak mau pergi, silakan. Ira nggak apa-apa.”  “Ya, sudah. Kalau gitu, jangan nangis terus. Nanti, Kakak beliin gamis yang bagus untukmu. Kamu sukanya warna putih, kan? Kakak tahu ukuran baju kamu.”

Humaira mengangguk lagi, lalu membalikkan badan menghadap dinding, tidak mau diganggu lagi. Fikri kemudian keluar, pergi dengan membawa beberapa kerajinannya.

Jawablah pertanyaan berikut dengan benar!

1. Ringkaslah penggalan novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta!

2. Temukan nilai-nilai yang terkandung pada penggalan novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta!

Kunci Jawaban dan Pembahasan

1. Ringkasan novel (Ketika Tuhan Jatuh Cinta)

Humaira masih menagis di dalam kamarnya dan Fikri pun bersedih tetapi masih menerima kenyataan bahwa semua adalah akan kembali kepada-Nya. Sang Penggenggam nyawa berfirman. Tidak ada pengecualian untuk semua hamba-Nya. Tidak pula ada penguluran waktu, walau sekejap saja, jika ajal sudah ditemukan. ‘Jangan kau buat suasana di rumah ini semakin beduka. Ibu sama bapak sudah kembali ke tempat yang semstinya. Mereka orang-orang yang shalih dan shalihah. Karena itulah, Allah sangat merindukan mereka hingga memanggil keduanya. “Bapak pernah bilang, janganlah kita jadi orang yang terlalu berlebihan dalam segala hal. Karena semua yang memakai kata “terlalu” akan berdampak tidak baik juga untuk kita. Dengar Humaira, “Barang siapa yang bersusah karena urusan dunia, sama saja dia marah kepada-Ku. Dan, barang siapa yang menampar mukanya atas kematian seseorang, maka ia sama saja dengan mengambil tombak untuk memerangi Aku.” Dalam hadits, Rasulullah bersabda demikian. Jadi, apakah kamu mau dirnasukkan ke dalam golongan hamba yang berani memerangi Allah?

“Sudahlah. Kalau terus-menerus menangis, tidak baik juga untuk kesehatanmu. Sekarang, tinggal kita berdua di rumah ini. Apa pun yang terjadi di kemudian hari, harus kita hadapi bersama. Sekarang, kamulah satu-satunya orang terdekat yang dititipkan Allah pada Kakak. Kakak harap. apa yang sudah terjadi tidak menjadikan kita terpisah lagi. Kakak tidak mau kehilangan orang yang Kakak sayangi untuk kedua kalinya.”

Dengan penuh kasih sayang, Fikri membelai kepala adiknya. Tak bisa ditahan, matanya pun berkaca-kaca ketika menatap foto almarhum orang tuanya.   “Oh, ya, kebetulan hari ini Kakak mau. mengantarkan kerajinan lagi sambil ngambil uang setoran di Jalan Otista. Humaira menolak ajakan Fikri . Fikri meawarkan akan membelikan gamis putih dan  Humaira menyetujui dengan anggukan.

2. Nilai-nilai yang terkandung dalam novel → Pembahasan:

Nilai-nilai yang terkandung dalam novel (Ketika Tuhan Jatuh Cinta)

Demikian prediksi contoh soal dan jawaban UTS, UAS modul Bahasa Indonesia Kelas 10, X SMA, dipelajari yah. Merdeka Belajar!

5/5 – (1 vote)

Yuk, Kami juga Ada di Google News, KLIK DISINI!

Artikel Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *